11 Ormas dan LSM di Lamsel “Kompak” Akan Menangkan Hipni Jadi Bupati

BERITAKITA.CO.ID, Lampung Selatan – Sebanyak, 11 Lembaga/Elemen Ormas di Kabupaten Lampung Selatan, mendeklarasikan diri untuk mendukung dan memenangkan bakal calon bupati (Balonbup) Hi Hipni, SE dalam Pilkada serentak 2020.

Deklarasi pernyataan sikap ini dilaksanakan kediaman Syaifulloh selaku Ketua Ormas Laskar Merah Putih, di Desa Palembapang, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Jum’at 26 Juni 2020.

Bacaan Lainnya

Adapun Oramas yang menyatakan sikap.
1. Laskar Merah Putih (Syaifulloh)
2. LSM Bakornas-Pwi (Herry)
3. LSM Kekar (Haris Sutiawan)
4. TTKDH (Rudi Topan)
5. Pejuang Siliwangi Ind (Dr. Sutomo Hendra)
6. Ormas Libas (Khoidir)
7. LSN Berkordinasi (Suryadi)
8. Komando Brigade 411 (Mahfud Al Azom)
9. Ormas JPKP (Yul Bahtiar)
10 .Ormas DJM Tiga Pilar (Pardi)
11. LSM Peduli Hukum (Imam).

Dari pantauan awak media, satu persatu ketua ormas memperkenalkan diri dan langsung menyatakan sikap dengan kesiapan untuk mendukung serta siap memenangkan Hi Hipni, SE dalam pencalonannya sebagai bupati.

Ketua Laskar Merah Putih Lamsel, Syaifulloh mewakili 10 Ormas lainnya menyampaikan, bila dirinya bersama 10 Ormas sepakat untuk mendukung dan memenangkan Hipni dalam Pilkada serentak Desember mendatang.

“Dalam silaturahmi ini, pada prinsipnya 11 ormas ini solid untuk mengarah dan memenangkan serta ikut berjuang bersama Bakal Calon Bupati Lamsel Hi Hipni,” kata Syaifulloh.

“Tanpa saya arahkan, ternyata 10 Ormas lainnya sudah kompak menyatakan sikap untuk mendukung dan memenangkan Hi Hipni. Kami siap berjuang,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Balonbup Hipni mengucapkan rasa syukur dan mengaku bangga atas dukungan pihak-pihak ormas dan eleman di Lampung Selatan.
“Terimakasih saudara-saudara ku, saya bersyukur dengan adanya kepedulian kalian dan siap berjuang bersama saya untuk memenangkan saya dalam Pilkada 2020,” kata Hipni, balonbup yang juga seorang pengusaha muda asal Kecamatan Palas tersebut.

Hipni pun mengungkapkan bahwa, kehadirannya itu merupakan bentuk komitmennya untuk maju Pilkada Lampung Selatan dengan diusung oleh partai ber-Koalisi.

Dimana menurut dia, gagasan untuk membangun Lampung Selatan dengan berbasis usaha pertanian merupakan gagasan yang akan menjadi komitmennya bersama dalam membangun ekonomi masyarakat Lampung Selatan.
“Kami hadir disini merupakan bentuk komitmen untuk turut berjuang membangun Lampung Selatan yang lebih baik lagi. Dimana Lampung Selatan dengan mayoritas penduduknya mendapatkan mata pencaharian dari pertanian. Dan 70 persen pemanfaatan lahan juga pertanian, maka maju pertanian, maju masyarakatnya dan maju daerah Kabupatennya,” ungkap Hipni.

Hipni juga mengatakan, dirinya telah mendengar dan mengalami langsung atas kondisi yang ada. Menurutnya, menjadi petani tidak muluk-muluk, ketika pemerintah tak bisa menaikkan harga, tetapi pemerintah harus bisa menurunkan biaya produksi.

Ia berpendapat, para petani harus diberikan pengetahuan. Petani itu potensi bisnis, tetapi bukan pekerjaan warisan. Kalau dari segi bisnis dibiarkan, maka petani akan minus.
“Misalnya ada 1 hektare tanah garapan hasilnya rata-rata 8 ton, kemudian dalam satu KK ada tiga tenaga kerja. Ketika berbicara UMR misal Rp2,5 juta per orang. Kalau dikalikan tiga itu sudah Rp7,5 juta. Kalau lima bulan sudah berapa. Nah, kalau 8 ton itu dijual dengan harga panen, dengan harga gabah Rp4 ribu per kg dan jagung Rp2.500 per kg, untuk menutupi tenaga kerjanya saja sudah minus. Belum lagi biaya produksi,” ujarnya.

“Di sini pemda bisa mengambil peran agar cost produksi pertanian bisa lebih rendah. Misalnya membenahi jalan-jalan pertanian. Sebab ini yang menjadi persoalan. Jika itu dilakukan, maka akan menekan cost produksi. Misalnya dengan kondisi jalan rusak per dua karung ongkosnya Rp50 ribu, bisa saja kalau jalannya mulus kan hanya Rp20 ribu. Kalikan saja kalau berkarung-karung, kan selisihnya besar juga. Sebab, pertani ini tidak melihat harga mahal atau tidak. Harga mahal kalau cost produksi tinggi juga sama saja. Kalau harga rendah, cost-nya kecil, tetapi bisa lebih menguntungkan saya kira bagus. Sebab, petani juga tidak untung besar, yang penting pangannya terjaga,” pungkasnya. (Gi/Lex)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *