Transformasi Perpustakaan Sekolah, Dispersip Lampung Selatan Gelar Sosialisasi Budaya Baca di Ketapang
BERITAKITA.CO.ID, Lampung Selatan – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Lampung Selatan, menggelar acara Sosialisasi Budaya Baca dan Literasi Tahun 2026 pada Rabu 12 Agustus 2026. Langkah ini dilakukan guna meningkatkan kecerdasan masyarakat melalui penguatan budaya baca dan literasi di lingkungan pendidikan dasar.
Acara yang dipusatkan di Aula Desa Sripendowo, Kecamatan Ketapang, ini mengusung tema “Optimalisasi Budaya Baca dan Literasi untuk Pengelola Perpustakaan Sekolah”.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh 150 peserta yang terdiri dari 12 orang Kasi Kesra/Kessos Kecamatan dan 138 pengelola perpustakaan SD–SMP dari lima kecamatan, yaitu Bakauheni, Kalianda, Ketapang, Penengahan, dan Rajabasa.
Sosialisasi dibuka secara resmi oleh Kepala Dispersip Lampung Selatan, Feri Bastian, M.Ling. Turut hadir dalam acara ini Kepala Bidang Pelayanan, Pembinaan, dan Tata Kelola Perpustakaan, Madro’i, camat dan kepala desa Sripendowo.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, panitia menghadirkan dua narasumber utama, yaitu akademisi sekaligus dosen Universitas Tulang Bawang, Syarifuddin, serta relawan literasi masyarakat, Sugeng Hariyono.
Dalam sambutannya, Kepala Dispersip Feri Bastian menyampaikan bahwa sosialisasi ini bertujuan mengubah cara pandang masyarakat terhadap perpustakaan dari sekadar gudang kertas yang membosankan menjadi ruang interaksi ilmu pengetahuan yang dinamis.
”Perpustakaan merupakan jantungnya ilmu karena buku-buku yang ada di dalamnya memiliki sumber yang valid. Selain sebagai sarana informasi dan edukasi, perpustakaan juga berfungsi sebagai sarana rekreasi yang edukatif,” ujar Feri.
Namun, ia menyayangkan konsep tersebut belum sepenuhnya melekat di tengah masyarakat, khususnya di lingkungan sekolah.
”Sebagai bagian dari pemerintah, kami bertanggung jawab mengajak para pengelola perpustakaan sekolah untuk terus menghidupkan perpustakaan masing-masing. Sekaligus, mendorong peserta didik memanfaatkan Perpustakaan Daerah, Perpustakaan Desa, maupun Taman Bacaan Masyarakat (TBM) terdekat,” tambahnya.
Feri menekankan pentingnya pengelola perpustakaan sekolah bekerja secara profesional, baik dalam pengelolaan koleksi, pelayanan, maupun administrasi. Terlebih di era literasi digital, pengelola dituntut adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
”Pengelola perpustakaan sekolah adalah ujung tombak dalam menumbuhkan minat baca, menyediakan bahan bacaan bermutu, dan membina kecakapan literasi dasar peserta didik. Hal ini mencakup penerapan standar, penggunaan teknologi, dokumentasi, dan administrasi yang lebih efisien,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus Kabid Pelayanan Dispersip, Madro’i, berharap kegiatan ini membawa dampak nyata bagi kualitas literasi di Lampung Selatan.
”Melalui kegiatan ini, diharapkan budaya baca dan literasi dasar di kalangan pengelola perpustakaan sekolah maupun peserta didik menjadi lebih baik dan berkualitas,” pungkas Madro’i. (Lex)
