BERITAKITA.CO.ID, Lampung Selatan – Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) belakangan ini tengah menjadi sorotan hangat publik di media sosial. Alih-alih berdiri di pusat keramaian demi menyaingi gurita ritel modern, proyek bernilai fantastis ini justru kerap ditemukan berdiri di lokasi yang dinilai kurang lazim.
Sebelumnya, masyarakat sempat menyoroti KDMP di wilayah Blora yang dibangun dekat kawasan hutan jati yang sepi, serta KDMP di salah satu pelosok Sulawesi yang berada di area terpencil. Fenomena tersebut langsung memicu diskusi publik mengenai efisiensi dan ketepatan sasaran anggaran nasional.
Rupanya, tata letak yang memicu tanda tanya ini juga terjadi di Kabupaten Lampung Selatan. Tepatnya di Desa Baktirasa, Kecamatan Sragi. Pasalnya, sebuah bangunan KDMP megah berdiri kokoh. Lokasinya cukup unik, karena diapit oleh area perkebunan warga dan menghadap langsung ke hamparan persawahan.
Pintu dan dinding beton modern khas perkotaan milik KDMP ini justru “beradu pandang” dengan permadani hijau raksasa yang membentang luas. Sawah di depannya memamerkan ombak tanaman padi yang menari-nari setiap kali disapu angin sore.
Jika ritel modern pada umumnya menargetkan kawasan padat penduduk dengan akses parkir yang luas, perencanaan tata letak KDMP Baktirasa ini justru menghadirkan konsep yang bertolak belakang. Kondisi di lapangan memperlihatkan kelayakan lokasi proyek yang terkesan dipaksakan dan kurang strategis dari kacamata bisnis ritel.
Tepat di samping depan sebelah kiri bangunan, jajaran pohon pisang tumbuh subur dengan daun-daunnya yang melambai ditiup angin. Sementara di sisi kanan hingga menjulur ke area belakang bangunan, hamparan tanaman jagung berdiri rapat menutupi sekeliling area ritel.
Berdasarkan pantauan wartawan di lokasi, pada Kamis 16 Juli 2026, akses menuju gerai modern ini terbilang cukup menantang. Meski jaraknya tidak terlalu jauh dari pemukiman warga, siapa pun yang ingin berkunjung harus melewati jalan tanah berbatu yang menghiasi sepanjang jalur utama.
Dana negara yang dikucurkan untuk program yang diresmikan serentak oleh Presiden Prabowo Subianto ini dikabarkan menyentuh angka Rp 1,6 miliar. Penempatan anggaran fantastis di tengah lahan perkebunan inilah yang kini menjadi pertanyaan besar di tengah masyarakat mengenai asas manfaatnya.

Pemilihan lokasi di tengah perkebunan ini memantik respons dari masyarakat sekitar. Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku heran dengan konsep penempatan ritel modern ala pemerintah tersebut.
” Kalau dibilang buat bersaing dengan minimarket modern ya bingung juga, siapa yang mau belanja ke tengah kebun? Saya kalau urusan dapur masih lebih percaya sama toko rumahan, harganya jelas lebih masuk akal dan dekat rumah,” ungkap sumber tersebut.
Meski demikian, ia mencoba melihat keberadaan proyek berbiaya jumbo ini dari sudut pandang lain secara jenaka.
“Tapi kalau diambil positifnya, mungkin ini fasilitas khusus untuk membantu petani sekitar. Jadi kalau lagi bekerja di kebun terus haus atau lapar, tidak usah jalan jauh-jauh ke kampung. Tinggal melipir ke KDMP, langsung bisa belanja,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada komentar resmi apapun dari pihak manapun. (RK)





