BERITAKITA.CO.ID, Lampung Selatan – Pemeritah Kabupaten Lampung Selatan menggelar Pra-Musrenbang tematik stunting 2026 di Aula Rajabasa, Selasa 3 Maret 2026.
Acara tersebut dibuka oleh wakil bupati M.Syaiful Anwar dan diikuti oleh sejumlah perangkat daerah hingga instansi vertikal.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2024, prevalensi stnting di Kabupaten Lampung Selatan berada pada angka 10,4 persen.
Angka ini mengalami peningkatan sebesar 0,1 persen dibandingkan Tahun 2023 yang sebesar 10,3 persen.
Stunting bukan sekedar isu kesehatan. Stunting adalah isu pembangunan. Ia menyangkut kualitas sumber daya manusia, produktivitas masa depan, dan daya saing daerah.
Menurut M.Syaiful Anwar, jika Lampung Selatan ini maju, maka harus memastikan generasi mudanya tumbuh sehat, cerdas, dan kuat.
“Kenaikan ini (angka stunting_red) menjadi pengingat bagi kita bahwa kerja-kerja percepatan tidak boleh kendor, dan tidak boleh berjalan biasa-biasa saja,” ujarnya.
Kendati demikian, posisi Lampung Selatan masih relatif terkendali. Namun rasa syukur itu harus diikuti dengan kerja keras yang lebih terarah. Target kita jelas, tren harus menurun, dan penurunannya harus konsisten dari tahun ke tahun.
“Oleh karena itu, perencanaan Tahun 2026 menuju 2027 harus memperkuat pendekatan konvergensi. Intervensi spesifik dan intervensi sensitif harus terintegrasi dan saling menguatkan,” tegasnya.
Intervensi spesifik, lanjut wakil bupati dengan memastikan ibu hamil, bayi, dan balita memperoleh layanan kesehatan dan asupan gizi yang optimal.
Selain itu, Intervensi sensitif memastikan akses air minum layak, sanitasi yang baik, ketahanan pangan keluarga, perlindungan sosial, serta edukasi pola asuh berjalan efektif.
“Kunci keberhasilan kita terletak pada integrasi program, ketepatan sasaran, dan konsistensi pelaksanaan,” kata politisi Partai Gerindra itu.
Ia mengingatkan, dalam penyusunan rencana Tahun 2027, Syaiful menekanka empat hal strategis
Pertama : penguatan basis data keluarga berisiko stunting sebagai dasar penetapan sasaran program. Data harus akurat, mutakhir, dan menjadi rujukan bersama seluruh perangkat daerah
Kedua : penajaman lokus desa dan kelurahan prioritas berdasarkan analisis situasi dan capaian kinerja. Kita harus fokus pada wilayah yang benar-benar membutuhkan intervensi lebih intensif.
Ketiga : sinkronisasi program dan kegiatan lintas perangkat daerah agar tidak terjadi duplikasi serta memastikan efektivitas anggaran. Setiap program harus saling melengkapi, bukan berjalan sendiri-sendiri
Keempat : penguatan monitoring dan evaluasi berbasis indikator output dan outcome yang terukur. Kita ingin melihat dampak nyata di lapangan, bukan hanya laporan administratif.
“Sebagai Ketua TP3S Kabupaten Lampung Selatan, saya mengajak seluruh jajaran dari kabupaten, kecamatan, hingga desa untuk mengoptimalkan peran koordinasi, fasilitasi, dan pengendalian aksi konvergensi,” kata Dia.
“Libatkan kader pembangunan manusia, PKK, tenaga kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dunia usaha melalui CSR, serta dukungan media,” kata Syaiful.
Ia berharap, Pra Musrenbang Tematik dapat menjadi ruang konsolidasi yang produktif. Forum yang melahirkan keputusan yang tajam, terukur, dan berdampak langsung pada masyarakat.
“Insya Allah, dengan komitmen yang kuat, kolaborasi yang solid, dan perencanaan yang presisi, kita mampu menurunkan prevalensi stunting secara signifikan pada Tahun 2027,” tandasnya. (Lex)





